How Japan’s Bullet Trains Changed Travel

Today’s high-speed trains will have you cruising along at 350 kilometres per hour.
Kereta api kecepatan tinggi saat ini memungkinkan anda meluncur dengan kecepatan 350 kilometer per jam.

A ticket is about the same as a flight,
Harga tiketnya hampir sama dengan harga tiket pesawat,

and the door-to-door time on some of the world’s most popular routes is the same, or less than getting a plane.
dan waktu tempuh dari satu titik keberangkatan ke titik tujuan di beberapa rute yang paling populer di dunia sama atau kurang dari naik pesawat terbang.

But decades ago rail travel was in decline.
Tapi puluhan tahun yang lalu, perjalanan kereta api mengalami penurunan.

It faced fierce competition from the air and auto industries.
Mereka menghadapi persaingan yang sengit dari industri penerbangan dan otomotif.

Then came Japan’s bullet train.
Lalu muncullah kereta peluru Jepang.

By the late 1950s, Japan’s economic miracle had transformed the war ravaged nation.
Hingga akhir tahun 1950-an, keajaiban ekonomi Jepang telah mengubah bangsa yang rusak oleh perang itu.

Its economy was growing quickly.
Ekonomi Jepang tumbuh pesat.

The area between Tokyo and Osaka was booming with industry.
Banyak industri yang berkembang di daerah antara Tokyo dan Osaka.

People were flocking to the capital for work
Orang-orang beramai-ramai menuju ke ibukota untuk bekerja

but the rail line connecting the two major cities couldn’t take the stress.
tapi jalur kereta api yang menghubungkan dua kota besar ini tidak bisa menghadapi tekanannya.

In 1958, a government panel was set up to tackle the problem and several potential solutions arose.
Pada tahun 1958, sebuah panel pemerintah dibentuk untuk mengatasi masalah itu dan beberapa solusi yang menjadikan muncul.

Among them, building the world’s first high-speed rail line.
Di antaranya, membangun jalur kereta api kecepatan tinggi pertama di dunia.

Many were skeptical, but two men were true believers.
Banyak yang ragu-ragu, tapi dua orang sangat yakin.

Shinji Sogō was the then president of the state-run Japanese National Railways.
Shinji Sogo waktu itu adalah presiden badan usaha negara Kereta Api Nasional Jepang.

The other, Sogō’s colleague, veteran engineer Hideo Shima.
Yang satunya, kolega Sogo, adalah insitur senior Hideo Shima.

Up against bureaucratic obstacles and fierce opposition – the two drove the project forward.
Melawan hambatan birokrasi dan oposisi yang sengit – dua orang itu maju terus dengan proyeknya.

In 1959, the Tōkaidō Shinkansen line started construction under Sogō’s leadership.
Pada tahun 1959, jalur Shinkansen Tokaido mulai dibangun di bawah kepemimpinan Sogo.

Shima was appointed the project’s chief engineer.
Shima ditunjuk sebagai kepala insinyur proyek itu.

His team designed the sleek and revolutionary cone-shaped front – from which the bullet train got its name.
Timnya mendesain bagian depan kereta berbentuk kerucut yang halus dan revolusioner – dari situlah kereta peluru mendapatkan namanya.

Rather than being pulled by an engine in front,
Daripada ditarik dengan mesin di depan,

each carriage of the bullet train was driven by an individual electric motor,
Setiap gerbong dari kereta peluru didorong oleh sebuah motor elektrik,

which has proven to be safer, faster and more efficient.
yang telah terbukti lebih aman, lebih cepat dan lebih efisien.

Apart from the train itself, the team also built wider tracks,
Selain keretanya itu sendiri, tim juga membangun rel yang lebih lebar,

which were more costly but allowed for greater stability and higher speeds.
yang lebih mahal tapi memungkinkan stabilitas yang lebih besar dan kecepatan yang lebih tinggi.

3,000 bridges and 67 tunnels were built on the 515-kilometer line to allow a clear and largely curveless path.
3.000 jembatan dan 67 terowongan dibangun di atas jalur sepanjang 515 kilometer itu untuk memberikan lintasan yang bebas dan tanpa tikungan.

Older trains were banned from the new line.
Kereta api lama dilarang di jalur yang baru.

Equipped with advanced technologies, the new trains were able to travel as fast as 210 kilometers per hour,
Dilengkapi dengan teknologi maju, kereta api yang baru mampu menempuh hingga 210 kilometer per jam,

a breakthrough in the passenger rail industry and the world’s fastest at the time.
sebuah terobosan di industri kereta api dan tercepat dunia waktu itu.

The journey time between Tokyo and Osaka was cut from over 6 hours to 4.
Waktu perjalanan antara Tokyo dan Osaka dipangkas dari 6 jam ke 4 jam.

On October 1, 1964, the new line opened,
Pada tanggal 1 Oktober 1964, jalur barunya resmi dibuka,

just in time for the Tokyo Olympic Games.
tepat untuk menyambut Pesta Olimpiade Tokyo.

But neither Sogō’ nor Shima were invited for the inauguration.
Tapi Sogo dan Shima tidak diundang ke peresmiannya.

They both resigned in 1963 because the project’s budget came in at double what was promised –
Mereka berdua mengundurkan diri pada tahun 1963 karena anggaran proyek meningkat menjadi dua kali lipat dari yang dijanjikan –

400 billion yen, the equivalent of 3.6 billion US dollars today.
400 miliar Yen, setara dengan 3,6 milyar dolar Amerika saat ini.

But despite their premature departure,
Tapi kendati kepergian mereka yang lebih awal,

the Tōkaidō Shinkansen line was an immediate success and quickly turned a profit.
jalur Shinkansen Tokaido langsung berhasil dan dengan cepat menghasilkan keuntungan.

It transformed the nation –
Proyek itu mengubah Jepang –

allowing more people to work in metropolitan areas
memberi kesempatan lebih banyak orang untuk bekerja di area metropolitan

and became a symbol of Japan’s postwar re-emergence as an economic and tech power.
dan menjadi simbol kemunculan kembali Jepang setelah perang sebagai kekuatan ekonomi dan teknologi.

Now over 300 trains operate on the line everyday.
Saat ini lebih dari 300 kereta beroperasi di jalur itu setiap hari.

And the trip between Tokyo and Osaka has shortened to two and a half hours.
Dan perjalanan antara Tokyo dan Osaka dipangkas menjadi dua setengah jam.

The number of passengers has also soared, reaching 165 million in 2016.
Jumlah penumpang juga meningkat, mencapai 165 juta penumpang pada tahun 2016.

After the success of the Tōkaidō Shinkanse line,
Setelah keberhasilan jalur Shinkanse Tokaido,

Japan has continued expanding its high-speed rail network and plans to build more.
Jepang terus meluaskan jaringan rel kereta api kecepatan tinggi dan berencana untuk membangun lebih banyak lagi.

Following Japan’s lead, countries like France, Germany and China have also developed high-speed railways.
Mengikuti petunjuk Jepang, negara-negara seperti Perancis, Jerman dan Tiongkok telah mengembangkan kereta api kecepatan tinggi.

By the end of 2018, the total length of high-speed rail network in the world will be over 46,000 kilometers,
and over half of it is in China.
Di akhir tahun 2018, total panjang jaringan kereta api kecepatan tinggi di dunia akan melebihi 46.000 kilometer, dan setengahnya ada di Tiongkok.