Navy SEAL Has a ’40 Percent Rule’ And It’s the Key to Overcoming Mental Barriers

I first met SEAL at a 100 mile run in San Diego and I was running this race as part of a six person relay team with friends and he was running the entire race by himself.
Saya pertama kali bertemu anggota Navy SEAL* di sebuah lomba lari 100 mil (=160km) di kota San Diego dan saya ikut lomba lari ini sebagai bagian dari tim estafet 6 orang dengan teman saya dan orang ini mengikuti lomba lari ini hanya seorang diri saja.
* Navy SEAL = setara dengan unit Kopassus di Indonesia

And the run was unsupported so you have to bring your own supplies.
(Kelengkapan) Lomba larinya tidak difasilitasi oleh panitia jadi kamu harus membawa bekal sendiri.

So we had, you know, we overdid it a little bit.
Kami agak berlebihan dalam menyiapkan diri.

We had a tent and we had masseuses and food.
Kami bawa tenda, tukang pijat dan makanan.

I mean we were ready for like in case we had to stay there a week.
Kami siap kalau misalnya harus tinggal di sana selama seminggu.

And he had a folding chair, a bottle of water and a bag of crackers.
Dan orang ini membawa satu kursi lipat, satu botol air dan sebungkus kerupuk.

And I just thought to myself like who is this guy.
Saya berpikir ke diri saya sendiri siapa orang ini.

I’ve never seen anything like it.
Saya belum pernah melihat yang seperti ini.

And during the race I kept an eye on him and around mile 70 he weighed probably 260 pounds which is quite large for an ultra runner.
Dan selama perlombaan saya mengawasinya dan ketika sampai di mil 70, dia berbobot 260 pon (=130kg) yang termasuk besar untuk pelari ultra maraton.

He had broken all the small bones in both of his feet and had kidney damage and he finished the race.
Semua tulang kecil kedua kakinya patah, ginjalnya rusak dan dia menyelesaikan lomba lari itu.

So when it was done I Googled him.
Ketika lomba larinya sudah selesai, saya mencarinya di Google.

He had a fascinating life story and I decided literally to cold call him.
Dia memiliki kisah hidup yang sangat menarik dan saya memutuskan untuk menelponnya.

And I flew out and met with him and after sitting with him for a couple of minutes I realized that I could learn so much from a guy like this that what makes him tick and various buckets in my life would be so much better if a little bit of what he had rubbed off on me.
Dan saya terbang menemuinya dan setelah duduk bersamanya selama beberapa menit, saya menyadari saya bisa belajar banyak dari orang seperti ini tentang apa yang memotivasinya dan daftar hal-hal yang ingin saya lakukan sebelum saya mati akan sangat terbantu jika sedikit apa yang dimilikinya bisa ditularkan ke saya.

I asked him to come live with my family and I for a month.
Saya memintanya untuk tinggal bersama keluarga saya selama sebulan.

So at the time that I invited SEAL to come live with us I had an 18-month-old son.
Waktu itu ketika saya mengundang anggota Navy SEAL untuk tinggal bersama kami, saya memiliki anak berusia 18 bulan.

I was married, still am.
Saya menikah waktu itu, dan sekarang masih.

Two more kids since.
Punya dua anak lagi setelah itu.

And I had sold a couple of businesses.
Dan saya berhasil menjual beberapa bisnis.

I was in a great place professionally in my life but I was also in a routine.
Dalam hal karir, saya berada di posisi yang nyaman waktu itu tapi saya juga terjebak rutinitas.

And routines are great but they can also be a rut.
Rutinitas itu bagus tapi mereka juga bisa jadi membosankan.

And I found that I just wasn’t getting better.
Dan saya mendapati bahwa saya tidak menjadi lebih baik.

I was doing the same thing every day like so many of us.
Saya melakukan hal yang sama setiap hari seperti yang kebanyakan dari kita lakukan.

Wake up, go to work, come home, you know, have dinner, repeat.
Bangun tidur, pergi kerja, pulang ke rumah, makan malam, lalu ulangi.

And I just wanted to get off autopilot.
Saya ingi keluar dari posisi oto-pilot dalam hidup saya.

And I thought that he would be a great way to get in good shape but also to just mix up my routine and get better.
Saya pikir dia adalah langkah yang bagus untuk membentuk saya menjadi lebih baik tapi juga memberikan variasi pada rutinitas saya dan menuju perbaikan.

The first day that SEAL came to live with me he asked me to do – he said how many pull-ups can you do?
Di hari pertama anggota Navy SEAL datang untuk tinggal di rumah saya dia bertanya pada saya – berapa pull up yang bisa kamu lakukan?

And I’m not great at pull-ups.
Saya tidak ahli dalam pull-up.

I did about eight.
Saya lakukan delapan pull-up.

Just getting over the bar eight.
Delapan pull-up yang sedikit melewati batang pull-up.

And he said all right.
Dan dia berkata ok.

Take 30 seconds and do it again.
Istirahat 30 detik dan lakukan lagi.

So 30 seconds later I got up on the bar and I did six, struggling.
30 detik kemudian saya berdiri di batang pull-up dan melakukan enam pull-up, dengan kesusahan.

And he said all right, one more time.
Dan dia berkata ok, sekali lagi.

We waited 30 seconds and I barely got three or four and I was done.
Kami menunggu 30 detik dan saya hanya bisa lakukan tiga atau empat dan saya kecapekan.

I mean couldn’t move my arms done.
Saya tidak bisa menggerakkan tangan saya.

And he said all right.
Dan dia berkata ok.

We’re not leaving here until you do 100 more.
Kita tidak akan beranjak dari sini sampai kamu melakukan 100 pull up lagi.

And I thought there’s no – well we’re going to be here for quite a long time because there’s no way that I could do 100.
Saya pikir tidak ada – kita akan di sana cukup lama karena tidak mungkin saya bisa melakukan 100 pull up.

But I ended up doing it one at a time and he showed me, proved to me right there that there was so much more, we’re all capable of so much more than we think we are.
Tapi akhirnya saya bisa melakukannya satu demi satu dan dia menunjukkan pada saya, membuktikan pada saya bahwa kita bisa melakukan lebih dari yang kita pikirkan.

And it was just a great lesson.
Itu adalah pelajaran yang luar biasa.

It was actually the first thing that we did.
Itu adalah hal pertama yang kami lakukan.

It was just a great lesson that we have so much more in our reserve tank than we think we do.
Itu adalah pelajaran yang luar biasa yang menunjukkan bahwa kita memiliki ‘bensin’ lebih banyak di ‘tangki bahan bakar’ kita dibandingkan dengan yang kita kira kita punyai.

One of the things that SEAL said to me and it’s in the book and one thing that people have said that really resonated with them.
Salah satu hal yang anggota Navy SEAL itu katakan pada saya dan ini ada di dalam bukunya dan satu hal yang orang-orang katakan bergema di dalam diri mereka.

He would say that when your mind is telling you you’re done, you’re really only 40 percent done.
Dia mengatakan bahwa ketika pikiranmu mengatakan kamu sudah selesai, kamu hanya 40 persen selesai.

And he had a motto if it doesn’t suck we don’t do it.
Dan dia punya slogan, jika tidak menyebalkan, kita tidak akan melakukannya.

And that was his way of every day forcing us to get uncomfortable to figure out what our baseline was and what our comfort level was and just turning it upside down.
Dan itu adalah caranya setiap hari memaksa kita untuk merasa tidak nyaman untuk menentukan di mana garis dasar kita dan tingkat kenyamanan kita dan membalikkannya begitu saja.

The 40 percent rule maybe it’s give or take a little but look at a marathon.
Angka 40 persen mungkin angka kira-kira, tapi lihatlah pada lomba maraton.

Most people hit the wall in a marathon at mile anywhere from 16 t0 20.
Sebagian besar pelari ‘menabrak tembok’ di sekitar mil 16 hingga 20.

And, you know, 99 percent of the people in this country that run marathons finish and they all, predominantly all of them go through this hit the wall.
99 persen warga negara ini yang berlari maraton menyelesaikan lari mereka dan mereka semuanya ‘menabrak tembok’ ini.

So where does that extra 50 or 60 percent or whatever the number is come from?
Jadi dari mana ekstra 50 atau 60 persen atau berapapun angkanya itu berasal?

I mean it’s their brain saying I’m done, I don’t want to continue but their will saying you know what?
Otak mereka berkata aku capek, aku tidak ingin melanjutkan tapi kemauan mereka berkata apa?

Let me get to the finish line.
Biarkan aku menuju ke garis akhir.

So we all have that will.
Kita semua memiliki kemauan itu.

It’s just a matter of how do we apply it to not just with the once a year marathon but to our daily lives to make it apply to a variety of things.
Hanya masalah bagaimana kita menerapkannya tidak hanya pada maraton setahun sekali tapi ke hidup kita sehari-hari ke berbagai macam hal dalam hidup kita.